Filsafat sebuah Lilin

Dalam hidup banyak fenomena yang terkadang tanpa kita sadari ternyata mengandung makna mendalam yang tercermin dari sebuah benda. Makna mendalam yang jika dengan cermat, arif dan seksama kita terjemahkan, bisa saja menjelma menjadi sebuah kandungan makna filosofi hidup yang dapat dijadikan cermin untuk kehidupan manusia. Baik itu kehidupan secara individu maupun kehidupan sebagai mahluk sosial.

Coba saja sekarang kita cermati bersama-sama mengenai kehadiran sebuah lilin di tengah-tengah kehidupan kita. Benda yang dibuat dengan model, bentuk dan ukuran disesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukkannya itu sungguh sangat khas, unik dan mempunyai kegunaan yang bisa jadi sangat dibutuhkan oleh manusia disaat-saat tertentu.

Menilik pada warnanya, lilin tidak pernah luntur walau terkena air dan sinar matahari. Ia tidak penah merubah warnanya menjadi warna sesuka hatinya atau demi beradaptasi dengan lingkungannya.Jika warnanya putih, kemarin, hari ini, esok dan lusa ia tetap berwarna putih. Beda dengan pemimpin-pemimpin di negara kita. Seperti binatang mimikri, ia selalu berubah-ubah warna demi menyesuaikan diri dengan kualisinya, kepentingan partainya, kepentingan koleganya, dan kepentingan-kepentingan lainnya diluar kepetingan tugas kepemimpinannya itu sendiri. Jika saja pemimpin masa depan negara kita mau sedikit memaknai pilosifi lilin tersebut maka ia akan mempunyai keteguhan pendirian yang kuat, tidak mudah berubah walau berada dalam lingkungan apa pun. Laksana Lilin yang senantiasa fokus dan konsisiten terhadap warna pribadinya atau karakter dirinya sendiri, tidak plinplan dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisi-kondisi yang bisa menodai kepemimpinannya.
 
Lilin hadir saat situasi sangat dibutuhkan oleh manusia. Kehadirannya dapat mengubah gelap menjadi terang saat mati lampu atau saat hendak ke tempat gelap tapi alat penerangan lainnya tidak ada. Artinya kehadiran lilin di tengah-tengah lingkungannya selalu dalam situasi yang sangat dibutuhkan. Karena besarnya kebutuhan saat itu maka lilin senantiasa dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan oleh lingkungannya meski tidak mempunyai kesempurnaan, karena hanya Allah sajalah yang memiliki kesempurnaan itu.Jikaualau pemimpin masa depan kita mampu hadir dan dapat memenuhi kenginan dan kebutuhan rakyatnya dalam menyelesaikan segala permasalahan di tengah-tengah masyarakat, tentunya negara ini akan semakin membaik dan tujuan kesejahteran masayarakat yang adil makmur bukan hanya diperdengarkan saat upacara bendera hari senin di sekolah-sekolah atau upacara-upacara hari besar nasional saja. Namun kenyataannya masih jauh panggang dari pada api.

Meskipun kecil, Lilin berani berkorban demi kepentingan orang banyak. Hanya demi seberkas cahaya, lilin rela tubuhnya meleleh bahkan lebur tak berbetuk dengan tanpa menuntut balas jasa pada siapapun. Ia ikhlas berkorban demi menerangi lingkungan sekitarnya tanpa membeda-bedakan usia, status ekomomi dan budaya, juga agama, selama dibutuhkan maka ia akan membantunya dengan tanpa pambrih sedikit pun. Filsafat ini yang paling penting untuk dimiliki sang pemipin masa depan. Bukan pemimpin yang hanya terbar pesona seolah-olah perduli pada kepentingan masyarakat bawah, namun hanya demi pencitraan saja agar mendapatkan simpati dari masyarakat.

Sang Lilin, kehadirannya dapat mengubah gelap menjadi terang, walau tidak seterang bolam listrik, namun lingkungan sekitarnya sangat merasa tertolong dengan pancaran sinarnya. Pemimpin masa depan hendaknya mampu hadir untuk mengubah gelap gulita negara ini dengan secercah cahaya perubahan. Mampu benar-benar memberikan harapan bagi rakyatnya dengan kebijakan-kebijakan yang benar-benar nyata (bukan sekedar janji) mengutamakan kepentingan kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, perlindungan hak, pada segenap rakyatnya.

Lilin hadir sesuai dengan kehendak pembuatnya, tidak penah berkeinginan lain di luar tugasnya sebagai lilin. Ini yang tidak dimiliki para pemimpin kita. Saat kampanye, entah berapa janji palsu yang meluncur dari mulutnya demi mendapatkan simpati masyarakat untuk kemudian sudi memilihnya sebagai pemimpin. Namun setelah rakyat menjadikkannya seorang pemimpin, janji-janji itu pun pudar entah kemana? Kepemimpinannya jauh melenceng dari kemauan rakyat sebagai pembuatnya menjadi pemimpin. Baru saja ditahun-tahun pertama, yang menjadi agenda kepemimpinannya adalah memperkuat kualisi dengan partai lain dan merumuskan bagiaman caranya agar tidak dijatuhkan oleh lawan politiknya, di tengah perjalanan, kemudian merencanakan semaksimal mungkin kembali terpilih saat pemilu berikutnya. Sementara kepentingan rakyat hanya sekedar menjadi angenda saja.

Setelah menyelesaikan tugasnya, ia rela digantikan oleh lilin lain. Tidak pernah sedikitpun berkeinginan kembali bangkit berdiri dan berebut posisi dengan lilin yang menggantikkannya. Sifat ini adalah sifat yang sangat berbeda jauh dengan pemimpinan kita. Siapa pun pemimpinnya, kalau perlu seumur hidupnya ia ingin mempertahankan posisi kepemimpinannya. Hanya kematian saja yang ia harap dapat mengakhiri masa jabatannya. Atau minimal tetap mempertahankan posisi teratas partainya. Sehingga dengan segala cara para ponggawa partainya akan menebar pencitraan kepada rakyat, walaupun untuk hal tersebut terkadang justru melukai hati rakyat.Karena yang diperjuangkannya bukan rakyat secara umum, tapi hanya rakyat yang mendukung partainya dan kantong-kantong suara yang telah memilihnya menjadi pemimpin.

Dalam melakasanakan tugasnya menerangi kegelapan, lilin sungguh sangat konsisten dan memiliki dedikasi tinggi. Konsisten artinya dapat melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi dan tugasnya sendiri. Berdedikasi artinya, ia melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh sesuai dengan fungsinya sebagai lilin. Meskipun sekitar nyala lilin itu, orang-orang sudah tertidur lelap, lilin tetap saja melaksanakan tugasnya dengan jujur sampai pada batas akhir tugasnya. Diawasi atau tidak oleh orang yang menyalakannya, lilin tetap mampu melaksanakan tugas sampai akhir tanpa pengingkaran terhadap tugas pokoknya menerangi lingkungan. Tanpa penyelewengan-penyelewengan kinerjanya saat melaksanakan tugas. Tanpa pengaruh-pengaruh lain yang dapat mengotori tugasnya.

Lilin tidak mengotori lingkungannya, bakhan bekas lelehannya pun akan sangat mudah dibersihkan dan tidak meluas ke segala arah. Lilin tidak menimbulkan polusi udara yang berlebih yang bisa membahayakan lingkungannya. Kita butuh seorang pemimpin yang memiliki karakter seperti ini. Ia tidak mengotori jabatatannya dengan hal-hal buruk. Tidak mencemari dengan polusi janji-janji, atau ketegasan semu yang lain di mulut lain kenyataanya.Rakyat jenuh dengan dramatisai kepemimpinan yang hanyalah seperti persaingan berebut kursi bagi para pemimpin partai dengan memanfaatkan propaganda pro rakyat. Atau sebuah perjanjian besar antar partai untuk mempertahankan hajat hidup partai masing-masing, dengan berbagi jabatan, poisi dan kedudukan. Sementara bagai api di dalam sekam, baranya sesekali dapat berkobar menghanguskan lawan politiknya. Terus bagaimana nasib rakyatnya kalau pemimpin masa depan masih juga sama seperti itu…?




Pernah dimuat di:http://filsafat.kompasiana.com/2012/03/16/filsafat-lilin-untuk-pemimpin-masa-depan/

Comments
0 Comments

0 komentar: