Hubungan Antara Terorisme dengan Media Massa


Selayang Pandang
Band BritRock Panic at the Disco menelurkan salah satu judul lagu mereka yaitu, “The only difference between martyrdom and suicide is the press coverage“. Kutipan lirik lagu tersebut sangat relevan untuk melihat hubungan antara media dan terorisme.
Sebuah Pemikiran
Aksi terorisme yang bisa terjadi kapan saja, tanpa memandang apakah terjadi di ibukota negara maupun kota lain di daerah yang dilakukan oleh sekelompok orang. Aksi terorisme sebenarnya tidak bisa dimaknai sebagai semata-mata tindakan pembunuhan atas kemanusiaan, namun juga sebagai tindakan komunikasi yang dilakukan oleh kelompok tertentu yang berusaha mendapatkan ekspos pemberitaan dari aksi terorisme mereka. Dengan pemberitaan ini, mereka berusaha menyuarakan sikap politiknya yang berseberangan dengan opini publik. Bahkan untuk mendapatkan ekspos pemberitaan ini, kelompok teroris tega melakukan aksi terror yang menyebabkan nyawa terenggut.
Sebagai aktor dalam komunikasi politik, umumnya teroris memiliki keterbatasan dalam menyuarakan kepentingannya, baik keterbasatan secara ekonomi maupun keterbasan sosial budaya. Ini berbeda dengan aktor komunikasi politik lainnya, seperti partai politik, kelompok kepentingan dan sejenisnya yang memiliki cukup modal ekonomi untuk menyuarakan gagasannya. Aktor politik ini juga memiliki modal sosial budaya yang baik dalam membangun komunikasi dengan media massa melalui aktivitas kehumasannya. Ini berbeda sekali dengan kelompok teroris yang mengambil jarak dengan media dan publik, karena aktivitas mereka bersifat inkonstitusional.
Brian McNair dalam bukunya Introduction to Political Communication (1999), menyebutkan bahwa  teror adalah sebuah bentuk komunikasi politik, yang dilakukan di luar prosedur konstitusional. Para teroris mencari publisitas untuk membawa tujuan psikologis mereka. Para teroris menggunakan kekerasan untuk menghasilan berbagai efek psikologis seperti demoralisasi musuh, mendemosntrasikan kekuatan gerakan mereka, mendapatkan simpati publik dan menciptakan ketakutan dan chaos. Untuk mencapai tujuan ini, para teroris harus mempublikasikan aksi mereka.
Melalui publisitas yang tercipta dari pemberitaan mengenai aksi terorisme yang mereka lakukan, kelompok teroris melakukan komunikasi dengan pemerintah di negara tempat mereka melakukan aksi terorisme dan bahkan pemerintah luar negeri. Dengan demikian, sebenarnya kelompok teroris berusaha menciptakan agenda media dengan harapan ada perhatian dari publik terhadap aksi mereka.
Kerangka berfikir para teroris dalam usahanya mencuri perhatian media ini bisa dibuktikan dari beberapa aksi terorisme yang mematik perhatian dunia internasional, seperti aksi 11 September 2001 yang diarahkan pada gedung World Trade Center (WTC). Aksi teroris ini langsung menjadi perhatian masyarakat dunia setelah ekspos media yang sangat besar.
Di Indonesia, aksi terorisme juga sering ditujukan kepada representasi dari masyararakat Barat, seperti aksi bom bunuh diri Bali maupun aksi bom bunuh diri yang menyerang kedutaan Australia. Logika untuk mendapatkan publisitas media tentu semakin bisa dipahami. Aksi pengeboman yang dilakukan terhadap gereja sebagaimana yang terjadi pada GBIS (Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo) juga mengingatkan kita pada aksi pengeboman yang dilakukan terhadap tempat ibadah terutama gereja di tahun 2000-an awal. Bedanya, aksi yang dilakukan pada saat itu bukan bom bunuh diri, berbeda dengan aksi saat ini yang dilakukan dengan aksi bom bunuh diri. Baik dilakukan dengan bom bunuh diri maupun tidak, para teroris memiliki motif yang sama yaitu menciptakan publisitas.
Pergeseran aksi bom bunuh diri ke daerah, bukan lagi di Jakarta atau Bali tidak bisa dimaknai bahwa kelompok teroris tidak menyadari tentang publisitas. Jika sebelumnya aksi bom banyak terjadi di ibukota negara dan Bali, bisa dimaknai kelompok teroris pada saat itu belum tersudut oleh operasi aparat keamanaan. Saat ini kelompok teroris di Indonesia semakin tersudut, terutama setelah beberapa elit mereka terbunuh dalam operasi aparat keamanan.
Kondisi kelompok teroris yang tersudut ini yang memungkinkan mereka melakukan aksi di tingkat lokal, sebagaimana yang terjadi pada aksi bom bunuh diri pada GBIS Kepunton Solo. Namun, walaupun aksi dilakukan di tingkat lokal kelompok teroris tidak hanya mengharapkan publisitas di tingkat lokal. Mereka tetap menginginkan publisitas di tingkat nasional, bahkan internasional. Karena para teroris berusaha menciptakan publisitas melalui pemberitaan media, maka media massa juga harus mampu memilih frame pemberitaan yang memberikan ”keuntungan” bagi kelompok teroris. Ini tidak lepas dari tujuan aksi terorisme untuk mengkomunikasikan ide-ide kelompok teroris.
Bahkan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, kelompok teroris melakukan konvergensi dalam usaha menciptakan publisitas yang lebih luas. Mereka bukan hanya memanfaatkan media massa konvensional dalam bentuk cetak maupun elektronik agar mendapatkan publisitas, namun juga menggunakan situs jejaring sosial di internet untuk menyebarkan publisitas. Ini bisa dilacak dari menyebarnya blog di internet yang menyuarakan kepentingan kelompok teroris.
Yang juga harus diwaspadai adalah usaha kelompok teroris untuk masuk ke dapur media dengan menyebarkan pengaruh pada awak media. Keterlibatan Imam Firdaus, juru kamera sebuah stasiun televisi swasta nasional dalam serangkaian aksi bom di Cirebon dan Serpong Tangerang di awal tahun 2011 mengindikasikan adanya usaha kelompok teroris untuk masuk ke dapur media. Jika usaha kelompok teroris untuk masuk ke dapur media ini terus berlanjut, maka kelompok teroris bukan hanya berusaha mendapatkan publisitas, namun lebih dari itu menciptakan publisitas.
Perang terhadap terorisme haruslah menjadi sikap dari media massa, dengan pemberitaan yang didasarkan fakta yang terjadi di lapangan sekaligus juga memberikan edukasi kepada publik mengenai toleransi dan keberagaman. Bukan hanya tentang berita tentang aksi terorisme yang diangkat, namun juga bagaimana seharusnya publik bersikap terhadap terorisme. Ini tidak lepas dari kenyataan yang terjadi dimana kelompok teroris yang tersudut oleh operasi aparat keamanan terpecah ke dalam kelompok-kelompok kecil yang menyebar di berbagai daerah. Persebaran kelompok teroris ini memungkinkan terjadinya aksi terorisme yang semakin meluas dalam skala lokal terhadap target di daerah yang oleh kelompok teroris tetap mereka harapkan mendapatkan ekspos di tinkat nasional bahkan internasional.
Pada era informasi dan teknologi sekarang ini informasi yang disampaikan media massa semakin cepat tersebar dan bisa diakses setiap saat. Termasuk untuk berita-berita yang sangat sensitif seperti berbagai aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama, terorisme, dan radikalisme. Media massa berlomba-lomba menyajikan laporan terorisme dan radikalisme secara eksklusif dan menjadikan sebagai berita utama (headline).
Pada dasarnya, media berusaha untuk menampilkan berita terbaru dan tercepat, paling depan daripada media lain (scoop). Akibatnya, tanpa konfirmasi yang jelas, media bisa jadi terburu-buru sudah memvonis bahwa sebuah berita yang merak beritakan itu sahih, contoh pemberitaan di awal 2007 (penggerebekan Temanggung) ketika diduga Noordin M Top tewas. Pertanyaannya, darimana kabar itu muncul? Siapa yang memberitahu? Semua (khususnya wartawan) tahu operasi semacam ini memiliki tingkat kerahasiaan tinggi. Bahkan, Kepala Polda Jateng yang berkuasa di wilayah itu pun tidak bisa memberikan keterangan satu kata pun kepada wartawan karena informasi mengenai terorisme harus melalui Mabes Polri.Wartawan pun kesulitan mencari pembenaran dalam waktu yang singkat. Sekali lagi, teroris menang.
Tanpa sadar, teroris memanfaatkan media untuk menyukseskan aksi mereka. Entah bagaimana prosesnya, tetapi kini keadaannya ruwet. Masyarakat lebih terkuras energinya untuk sekadar bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Sementara media tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya.
Pemberitaan tentang terorisme dan radikalisme disatu sisi sebagai hal menarik karena memiliki nilai berita yang tinggi. Namun pada sisi lain, bisa membawa dampak negatif jika berita tentang terorisme dan radikalisme di-blow-up secara berlebihan tanpa memperhatikan dampak yang lain, seperti sosial, psikologis dan sebagainya. “Pada sisi ini, kerapkali, media massa menjadi sasaran kritik karena dianggap menjadi andil bagi maraknya aksi terorisme dan radikalisme. Semakin di blow-up, maka terorisme bukan malah mereda, tetapi justru menimbulkan aksi lanjutan sebagai bentuk reaksi dari pemberitaan tersebut. Dalam konteks ini, media dianggap turut menciptakan radikalisme itu sendiri.Kita terpaku bahwa senjata teroris itu hanyalah bom. Padahal, lebih dahsyat lagi adalah propaganda yang mereka sebarkan, kalau boleh disebut sebagai “bom psikologis”. Entah melalui perorangan atau isu yang memperkeruh suasana dan terlanjur muncul di media massa.
Maka media massa bisa dipandang turut menumbuh-suburkan terorisme maupun radikalisme baru. Dengan kata lain, saat media massa memberitakan dimana-mana sehingga masyarakat berasumsi terorisme dan radikalisme juga disokong media massa.” Tumbukan yang media dan masyarakat terjadi jika informasi tanpa editorial diekspose secara besar-besaran, masyarakat yang tidak tahu menjadi tahu. Bisa jadi dari keluarga pelaku akan makin memunculkan rasa dendam sehingga memunculkan aksi yang baru. Ada dua faktor yang menungkinkan munculnya radikalisme, faktor yang berasal dari internal dan eksternal. Faktor internal itu yakni statisme dalam pemahaman teks keagamaan melahirkan penyesatan sehingga muncul gerakan sektarianisme. Sedangkan faktor eksternal antara lain karena terjadinya kelumpuhan budaya, teknologi, ekonomi.
“media massa memang harus berpihak, tetapi berpihak untuk kepentingan masyarakat”.
Pengaruh media massa pada dasarnya memiliki peran penting dalam menentukan pengetahuan masyarakat dan kemampuannya mempengaruhi persepsi publik dengan kekuatan untuk untuk mengubah yang salah menjadi benar dan sebaliknya. Dengan pengaruh besar tersebut, harus disadari, jurnalis adalah bagian dari masyarakat itu sendiri yang kehadirannya tidak bisa dilepaskan dari konteks masyarakatnya. Ketika radikalisme sedang menguat di masyarakat, maka bukan tidak mungkin jurnalis juga terpengaruh radikalisme yang sedang berkembang di masyarakat tempat hidup jurnalis tersebut, jurnalis sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakatnya tentu memiliki tantangan tersendiri dalam melihat persoalan ini. Di satu sisi, jurnalis adalah bagian dari masyarakat yang memiliki sebuah keyakinan keagamaan tertentu. Namun di sisi lain jurnalis dituntut untuk menjadi seseorang yang memgang teguh prinsip-prinsip idependensi dalam melakukan berbagai peliputan peristiwa, termasuk peliputan keagamaan. Pencampuran opini dengan fakta dalam pemberitaan pers dapat menimbulkan emosional yang mengakibatkan konflik antara publik atau subjek berita. Apalagi yang menyangkut konflik masyarakat, persoalan yang sensitif, aksi terorisme maupun radikalisme. Wartawan yang membuat berita bohong atau mencampuradukkan fakta dan opini akan berkonsekuensi baik secara hukum maupun sanksi moral.
A violent communication strategy (Strategi Komunikasi Dengan Kekerasan)
Media membutuhkan bahan berita yang menarik khalayak, di sisi lain para pelaku teror membutuhkan publisitas untuk menunjukkan eksistensi atau menyebarkan alasan ideologis dibalik aksi teror yang mereka lakukan. Meski demikian penayangan para korban teror atau pelaku teror secara berlebihan dianggap menghadirkan teror baru bagi pemirsa. Sebagai contoh, potongan kepala pelaku Bom Mega Kuningan yang diberitakan berkali-kali oleh media telah mengundang kritik dari berbagai pihak. Fakta bahwa teroris memanfaatkan media dapat ditarik jauh ke belakang, antara lain ke kasus pembunuhan Empress Elizabeth (Tuchman, 1972). Pelakunya, Luchini, seorang yang gemar melakukan kliping berita, menyatakan: “Saya telah lama ingin membunuh orang penting agar bisa masuk koran!” Pada tataran teoritis, hal ini dinamakan aviolent communication strategy. Pelaku teror bertindak sebagai sender, para korban menjadi message generator, dan receiver adalah kelompok yang dianggap musuh atau publik secara luas. (Ghozali, Kompas/07-08-2003). Brian Jenkins mengungkapkan bahwa terorisme adalah produk dari kebebasan pers. Walter Laqueur sependapat dengan pernyataan Jenkins dan menyebut media sebagai teman baik teroris karena tanpa publisitas aktifitas mereka tidak berarti (Biernatzki, 2002:5)
Media massa dan terorisme adalah simbiosis mutualis yang saling menguntungkan satu sama lain. Kelompok teror membutuhkan publikasi sementara media membutuhkan berita yang memiliki nilai informasi tinggi. Grant Wardlaw menyatakan, terorisme merupakan sebuah komoditas yang bisa diekspor, terorism is now an export industry. Terorisme ibarat industri yang bisa dikembangkan di mana-mana. Industri itu, menurut Collin Wilson dan Donald Seamen, sebagai the world’s most sinister growth industry (industri kekejaman dunia yang paling berkembang) (Mc Alister, 2002). Terorisme memiliki nilai berita yang tinggi karena dramatisasi yang berlangsung secara alami (Gadarian, 2010:471-472).
Penelitian yang dilakukan oleh Schmid and de Graaf, 1982, Schlesinger, 1991, Nacos, 1994, Lockyer, 2003, Norris, Kern and Just, 2004 menunjukkan bahwa hubungan media dan teroris bersifat simbiotik. Pemanfaatan secara aktif meliputi: mengomunikasikan pesan-pesan ketakutan kepada khalayak luas; mempolarisasi pendapat umum; mencoba menarik anggota baru pada gerakan teroris; mengecoh musuhnya dengan menyebar informasi palsu; mengiklankan diri dan menyebabkan mereka merasa terwakili; membangkitkan keprihatinan publik terhadap korban untuk menekan agar pemerintah melakukan kompromi atau konsesi; mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang tidak dikehendaki dengan harapan berita teror mereka mengisi halaman depan media; dan membangkitkan kekecewaan publik terhadap pemerintah. Teroris memanfaatkan reportase media untuk mencapai target politik global (Alkarni, 2005:3). Soriano memulai eksplorasinya tentang hubungan antara media dan terorisme dengan menggunakan kata dari Marshall McLuhan, “without communication, terorism would not exist”.
Pemikiran terorisme membutuhkan peran dari media untuk mewujudkan eksistensinya. Melalui media, pesan teroris dapat disebarluaskan lebih cepat dan lebih meyakinkan. Menurut Brigitte Nacos ada tiga tujuan utama teroris yang berlaku secara universal yaitu: menarik perhatian, mendapat pengakuan, dan mendapat penghormatan serta pengesahan. Tujuan-tujuan tersebut merujuk pada simbiosis hubungan antara media dan teroris. Brigitte Nacos menggabungkan aspek-aspek tujuan tersebut menjadi sebuah kerangka kerja dimana teroris memiliki empat ketergantungan umum terhadap media ketika mereka melakukan serangan. Keempat kerangka kerja tersebut adalahgain attention and awareness of the audience, recognition of the organization’s motives, gain the respect and sympathy, dan gain a quasi-legitimate status and a media treatment similar to that of legitimate political actors (Soriano, 2008:1-20).
Penutup
Media sesungguhnya berada di tengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik, dan fakta yang kompleks dan beragam. Isi media tidak hadir begitu saja melainkan melalui mekanisme tarik menarik kepentingan internal dan eksternal yang kuat. Apa yang tersaji di media bukanlah realita yang sesungguhnya melainkan formulasi kerja redaksional yang menghadirkan kembali realitas dalam wajah yang lain. Media melalui formulasi tersebut menghadirkan realitas baru yang telah mengalami penambahan, pengurangan, perbaikan, penghapusan atau bahkan distorsi dari realitas sesungguhnya. Alih-alih menghadirkan realitas obyektif, isi media justru sarat dengan berbagai kepentingan yang melingkupinya.
Awak media yang berkaitan dengan pemberitaan tentang terorisme perlu memiliki kesadaran dan kemauan kuat untuk mengurangi dampak buruk berita yang mereka buat. Kronologi, tata cara melakukan aksi, cara menggalang dana dan ideologi teroris tidak perlu diberitakan secara detail beserta ilustrasi yang bisa dicontohMateri berita bisa diganti dengan strategi kontra terorisme yang berisi penguatan semangat nasionalisme, kesetiakawanan, menghargai perbedaan, dan mengalihkan perhatian generasi muda agar tidak mencontoh tindakan teroris. Terorisme bisa dikurangi dampaknya jika media mampu menyajikan pemberitaan yang cerdas dan sehat.
Bagi Indonesia yang selama ini menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya terorisme kemampuan media dalam membantu ketahanan nasional sangat dibutuhkan. Pemberitaan tentang terorisme harus disajikan dalam kerangka untuk menjaga ketahanan nasional dan menghindari efek negatif yang menginspirasi pelaku teror lainnya. Pada akhirnya kemampuan media untuk menyikapi kasus terorisme dengan pemberitaan cerdas sangat dibutuhkan agar kebebasan pers tetap terjaga tanpa harus menimbulkan dampak buruk dengan lahirnya teroris baru yang terinspirasi pemberitaan media.
Daftar Pustaka
  1. Ganor, Boaz, 2005, Dillemas Concerning Media Coverage of Terrorist Attacks, (24 Oktober 2012, handout Mata Kuliah Teror- Kontrateror Prof Adrianus Meliala, Ph.D)

  2. Weimann, Gabriel, 2004, www.terror.net, How Modern Terrorism Uses the Internet, (24 Oktober 2012, handout Mata Kuliah Teror- Kontrateror Prof Adrianus Meliala, Ph.D)

  3. Mamoto, Retno Sukardan, 2008, Indonesia DAlam Media Cetak Amerika: Kasus Terorisme, (24 Oktober 2012, handout Mata Kuliah Teror- Kontrateror Prof Adrianus Meliala, Ph.D)

  4. Whittaker, David J, Terrorist and Terrorism in Contemporary World, (24 Oktober 2012, handout Mata Kuliah Teror- Kontrateror Prof Adrianus Meliala, Ph.D)

  5. Alkarni, Ali, 2005, A Media/Terorism Model The Saudi Experience, presented in International Association for Media &Communication Research, TAIPEI, 2005

  6. Biernatzki, William E. 2002, Terorism and Mass Media, Centre for the Study of Communication and Culture: Santa Clara University

  7. Hoffman, B. (2006), Inside Terorism (Revised and Expanded Edition), New York: Columbia University Press.

  8. Gadarian, Kushner, Shana, 2010, The Politics of Threat: How Terrorism News Shapes Foreign Policy Attitudes, The Journal of Politics, Vol. 72, No. 2, April 2010, Pp. 469–483.

  9. Ghozali, Effendi, 2003, without media there can be no terorismdimuat di Kompas, 07-08-2003. (diakses di kompas cyber archieve 27 Oktober 2012, 12.03 WIB).

  10. Gill, Paul, 2007, A Multi-Dimensional Approach to Suicide Bombing, School of Politics and International Relations, University College Dublin: Ireland, IJCV : Vol. 1 (2) 2007, p. 146-147.

  11. Mc Alister, Melanie, A Cultural History of The War Without End, published at The Journal of American History, September 2002.

  12. Manuel R. Torres Soriano, “Terorism and the Mass Media after Al Qaeda: A Change of Course?” Athena Intelligence Journal Vol. 3, No 1, (2008), pp. 1-20

No comments:

Powered by Blogger.