Realiti Show ala Pemimpin Kita

Seiring dengan perkembangan perpolitikan nasional yang makin hari kian memanas, berbagai cara telah dilakukan untuk memperoleh simpatik dari masyarakat. Karuan saja, masyarakat kini dikenalkan dengan tradisi blusukan yang sebelumnya tidak begitu populer dimasyarakat pasca Joko Widodo (Jokowi) dijagokan sebagai Cagub dan menjadi Gubernur DKI Jakarta menjadi trend.

Banyak politikus akhirnya latah dengan menggunakan tradisi blusukan termasuk SBY yang mengklaim sudah melakukan tradisi ini sejak lama. Masyarakat juga goncang dan disadarkan dengan kecanggihan teknologi informasi, karena amarah Basuki Wakil Gubernur DKI dalam rapat-rapat internal Pemda DKI diawal-awal kepemimpinannya dapat ditonton dan diakses melalui situs online youtube. Keberaniannya mengundang decak kagum para penontonnya sebab jarang sekali pejabat mempublikasikan proses rapat dengan aksi marah-marahnya. 

Peristiwa mutaakhir belakangan ini adalah penggunaan akun twitter Presiden RI @sbyudhoyono yang katanya mencoba mengkomunikasikan berbagai masalah dengan seluruh rakyat Indonesia. Tentu yang tidak dapat dilepaskan dari ekses terbaru keberadaan twitter SBY adalah kisah Tasripin yang berujung pada simpati Presiden dan datangnya bala bantuan kepada Tasripin. 

Pandangan masyarakat terhadap aksi Jokowi, Basuki dan SBY adalah rasa bangga dan senang karena aksi nyata dari pemimpin bangsa ini dianggap jarang dilakukan. Aksi Jokowi yang sering terliput oleh media adalah turun kelapangan untuk melihat kondisi sambil membagi-bagikan sembako, peralatan sekolah, sepeda dan bantuan-bantuan lainnya yang dibutuhkan rakyat. Tidak jauh berbeda dengan aksi Jokowi, Wagub DKI pun tidak ingin kalah dan tertinggal oleh popularitas Jokowi. Basuki pada awal-awal kepemimpinanya bersama Jokowi mencoba memanfaatkan youtube untuk menyebarluaskan watak dan karakter pro rakyatnya. Basuki juga tidak segan-segan mempublikasikan gaji dan penghasilanya, harga mobil dinasnya yang mencapai 1,8 Milyar, dan biaya perbulan kegubernuran yang mencapai milyaran rupiah melalui situsnya. Kini aksi youtube Basuki yang berwatak dan berkarakter pun tidak pernah terdengar lagi di pemberitaan media. 


Demikian pula akun @sbyudhoyono, tidak mencapai satu minggu lamanya keberadaan akun twitter SBY berhasil membuat masyarakat mengenal Tasripin, seorang anak yang membiayai tiga orang adiknya. Sepertinya tidak mencapai hitungan hari, begitu diketahui oleh SBY, rumah Tasripin pun dibedah, Tasripin dan keluarga diboyong ke hotel dan setelah itu Tasripin dikembalikan ke rumahnya yang telah selesai direnovasi sambil menerima bungkusan uang yang diberikan oleh staf dari Kepresidenan. Benar-benar upaya yang luar biasa dari SBY untuk mencoba bekomunikasi dengan rakyatnya. 


Aksi yang dilakukan oleh Jokowi, Basuki dan SBY secara nyata adalah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Hanya saja menjadi pertanyaan bagi masyarakat, mengapa aksi tersebut harus dipublikan melalui media massa? Mengapa jadinya jika tidak dipublikan, apakah Jokowi, Basuki dan SBY akan kehilangan jabatannya? Toh memang sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka untuk memberikan perlindungan kepada masyarakatannya, sehingga tidak harus melalui media massa pun masyarakat akan memberikan apresiasi kepada ketiganya. 


Jawaban atas aksi-aksi dari Jokowi, Basuki dan SBY sederhana, karena mereka bertiga masih berada pada level sebagai politikus, belum menjadi seorang negarawan. Politikus masih membutuhkan popularitas untuk mempertahankan dan mencapai kekuasaan yang dicita-citakan. Sedangkan negarawan tidak lagi membutuhkan popularitas dan kekuasaan, sebab popularitasnya tidak akan pernah pudar dan berdiri diatas seluruh kepentingan bukan kepentingan dirinya sendiri. 


Oleh karena itu, apa yang masyarakat lihat tentang blusukan, aksi youtube dan media online basuki dan aksi twitter akun SBY tidak lepas dari kepentingan diri mereka masing-masing, yaitu popularitas dan kekuasaan. Jokowi masih merasa belum cukup dan perlu mempertahankan popularitasnya untuk kepentingan dirinya dan tentu mempertahankan bahkan perlu menambah suara partai yang mengusung dengan cara blusukannya. Basuki yang digambarkan sebagai seorang berwatak tegas sedikit pemarah kepada para birokrat yang “nyeleneh” memaksakan diri harus mempublikasikan kinerja melalui media online, juga tidak lepas dari kepentingan dirinya untuk kekuasaan mendatang dan suara partai yang mengusungnya. Termasuk juga SBY, yang sebenarnya tidak harus mengerjakan tugas-tugas yang bukan berada di kewenangannya tetapi untuk kepentingan popularitasnya, pekerjaan-pekerjaan yang bukan tugasnya itu harus dilakukan seperti rasa simpatinya kepada Tasripin. tetapi karena karakter pencitraan yang kuat sejak tahun 2004, maka pekerjaan yang melampaui kewenangan sudah menjadi tidak berarti. 


Aksi ketiganya tidak berbeda dengan “reality show” yang sering masyarakat temukan di infotainment-infotainment. Kegiatan “reality show” sebagai sebuah acara yang sudah dikemas sedemikian rupa untuk menarik perhatian penontonnya. Tujuannya mendatangkan oplah atau jumlah penonton yang banyak. Sama halnya dengan Jokowi, Basuki dan SBY dalam aksi-aksinya telah mengemas kegiatan politiknya dimasyarakat tidak bedanya dengan acara “reality show” melalui media blusukan, online maupun bantuan-bantuan, dengan maksud tidak lain adalah lebih terkenal lagi dimasyarakat dan dianggap merakyat serta meraih suara sebanyak-banyaknya. Reality-nya membungkus kepentingan mereka untuk hajatan politik pada tahun-tahun berikutnya ke dalam bahasa-bahasa yang seakan-akan saya bekerja untuk rakyat, padahal aksinya tidak lebih dari memperoleh dukungan dan simpati rakyat. Sederhana untuk mengukur ketulusan mereka untuk benar membela rakyat, lihat misalnya diperempatan cawang banyak sekali para peminta-minta yang membutuhkan bantuan dari Jokowi, Basuki dan SBY tetapi mengapa mereka tidak menjadi prioritas perhatian? apa karena tidak terjangkau oleh Tim Sukses atau karena mereka tidak memiliki akun media sosial atau kurang sensasional nilai beritanya? Berapa ribu orang yang hidup dibawah kolong jembatan dijakarta dan orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan disepanjang pantura, namun mengapa Jokowi, Basuki dan SBY juga tidak segera turun tangan membantu mereka? Gajah dipelupuk mata tak tampak tetapi kuman diseberang lautan terlihat jelas, yang dihadapan mata, sehari-hari dilalui oleh mereka bertiga nampak begitu jelas namun seakan tidak ada masalah apapun dihadapan mereka.

Oleh : Ghaliza

No comments:

Powered by Blogger.