Pidato Peraih IPK tertinggi UGM

Raih IPK Tertinggi, Aditya: Itu Bukan Prestasi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam sejahtera bagi kita semua

Yang Terhormat Jajaran pimpinan Universitas Gadjah Mada
Yang kami hormati Pimpinan senat Akademik Universitas Gadjah Mada
Dekan fakultas di Lingkungan Universitas Gadjah Mada
Hadirin tamu undangan, orang tua / wali wisudawan-wisudawati
Dan saudaraku wisudawan-wisudawati yang saya banggakan

Segala puji kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan syukur atas nikmatNya yang tidak bisa kita dustakan. Atas ijinNya lah kita bisa mengikuti prosesi Wisuda Program Sarjana Periode IV Tahun Akademik 2012/2013 di gedung kebanggaan kita, Grha Sabha Pramana.

Hadirin yang berbahagia,
hari ini Indonesia patut berbangga akan lahirnya calon-calon yang akan membawa kembali kejayaan bumi pertiwi, kejayaan yang diawali oleh darah dan nyawa para pejuang kemerdekaan. Saat ini kitalah pejuang-pejuang yang akan membawa negeri ini untuk berjaya. Untuk mencapai hal tersebut persepsi akan kekayaan negeri ini adalah alamnya harus dirubah. Manusia lah yang harus menjadi kekuatan dan kekayaan kita, bukanlah emas maupun minyak, manusia yang cerdas dan berakhlak mulia.
Janji konstitusi untuk mencerdaskan bangsa sudah terbayar untuk kita yang berada disini. Kita disini adalah anak bangsa yang tercerdaskan, terdidik dan masa depan bangsa. Bukan tempat kita jika kita masih menghujat, mengutuk dan membesar-besarkan kekurangan bangsa kita. Toh tidak ada bangsa yang sempurna. Buang semua pesimisme karena saat ini kita adalah masa depan bangsa ini, yang akan membawa Indonesia menunjukkan taringnya ke dunia.

Calon pemimpin bangsa yang saya banggakan,
saat ini kita memasuki era meritrokasi, era dimana prestasi kita yang menentukan dimana tempat kita, bukan orang tua, kolega ataupun kedaerahan. Kita sendirian di rimba dunia ini dan prestasi kita yang akan membuka jalan untuk kita. Prestasi bukan hanya IP tinggi, juga bukan hanya terpilih menjadi mahasiswa berprestasi. Kita semua berprestasi ketika kita tahu apa kekuatan kita, terus mengembangkannya dan menggunakannya untuk kepentingan publik. Tidak ada prestasi, tidak ada tempat untuk kita.
Sebuah keprihatinan dimana ketika era meritrokasi ini sudah berlangsung, chauvinisme dan fasisme akan almamater menjalari kaum muda terpelajar, yang justru sebagian besar terjadi di institusi top negeri ini. Pelaku chauvinisme terlalu bangga dan takabur akan status mereka sehingga mereka abai untuk terus belajar menjadi lebih baik. Kita anak-anak Gadjah Mada tentu pantang berperilaku demikian. Kita tidak perlu riya’, tidak perlu sombong biarlah prestasi kita yang berbicara.
Masuk dan sekarang lulus dari Universitas Gadjah Mada adalah modal prestasi kita. Namun jika kita berhenti belajar, takabur dan hanya membanggakan diri kita sebagai lulusan UGM, kita telah meniup terompet kekalahan. Juallah diri kita sebagai “Saya lulusan Gadjah Mada dengan prestasi luar biasa”. Camkanlah di dalam dada “Saya bangga menjadi anak UGM dan akan membuat UGM bangga akan saya”.

Saudaraku sekalian,
dalam proses menuju kejayaan saat ini Indonesia sedang berhadapan dengan masalah defisit orang berintegritas. Integritas yang bukan hanya berarti jujur akan tetapi juga menjunjung tinggi kebenaran menjadi barang langka dalam kehidupan bernegara sekarang ini. Saat ini bukan hanya nasi yang menjadi makanan sehari-hari akaa tetapi juga berita korupsi. Ingat sekarang ini bukan hanya malaikat yang mencatat kasus korupsi, mbah google pun terus merekammya. Jangan sampai cucu kita harus berganti nama karena malu kakeknya adalah seorang koruptor.
Saya yakin tidak akan ada lagi alumni Gadjah Mada menjadi sorotan berita korupsi. Universitas Gadjah Mada adalah garda terdepan penghalang korupsi di negeri ini.

Saudaraku wisudawan wisudawati yang saya hormati,
4 tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk menuntut ilmu, akan tetapi selama 4 tahun begitu banyak yang bisa kita pelajari di universitas kerakyatan kebanggaan kita ini. Keberhasilan studi kita tentu merupakan sumbangsih bantuan tulus dari berbagai pihak. Disini ijinkanlah saya mewakili hati seluruh wisudawan-wisudawati untuk menghaturkan terima kasih setulus-tulusnya kepada :
- Seluruh pimpinan universitas, pimpinan fakultas, dosen-dosen dan seluruh civitas akademika Universitas Gadjah Mada yang telah mengukir pemikiran kami dan menjadikan kami menjadi insan yang berilmu. Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya dan semoga Allah menuliskannya sebagai amal jariyah.
- Tenaga kependidikan atas segala bantuannya sehingga kami lebih mudah dan fokus selama menuntut ilmu di Universitas tercinta ini.
- Kepada institusi-institusi yang memberikan bantuan finansial untuk kelancaran studi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada.
- Terima kasih kepada Jogja yang telah membuat hati kami nyaman selama berada disini dan semoga Jogja terus berhati nyaman.
- Segala pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, semoga Allah membalas dengan kebaikan yang lebih baik.
- Secara pribadi terima kasih kepada Bapak Anies Bawedan atas inspirasinya dalam menyusun pidato ini
- Dan yang terakhir namun tidak akan pernah berakhir, kepada keluarga terutama orang tua kami atas tenaga, air mata, doa dan cintanya sehingga kami menjadi kami sekarang ini. Saya pribadi berterima kasih tak terhingga kepada ayah Suharno dan ibu Agustiati.

Ayah, Ibu dan hadirin sekalian, kami meminta do’a dan restu untuk melanjutkan perjuangan kami, untuk mengabdi kepada negara ini dan untuk terbang setinggi-tingginya tanpa melupakan kodrat kami sebagai anak yang harus berbakti.

Mohon maaf apabila terdapat salah-salah kata. Kesalahan murni dari saya dan kebenaran datang dari Allah.

Selamat melanjutkan perjalanan saudaraku

Mari berkarya, dengan cita rasa Gadjah Mada, untuk Indonesia dan Dunia

Jayalah Universitas Gadjah Mada, Jayalah Indonesia

3 comments:

Powered by Blogger.