Koruptor bisanya "Ngeluh"

Ada saja keluhan yang dilontarkan para tahanan KPK, atau Keluarganya. Ada yang mengeluh lantaran tidak ada bilik asmara, ada yang sedih tidak bisa melukis, dan ada pula yang bingung karena tidak ada Koran di rutan KPK. Mereka pun diingatkan, ini rutan bukan hotel bukan kaya rumah lu.


Menjalani hidup sebagai tahanan tentu sangat berat. Berada di balik terali besi sudah pasti berbeda 180 derajat dengan menjalani kehidupan normal saat bebas merdeka. Selain dibatasi dinding ruang yang sempit, banyak rutinitas yang tidak bisa dilakukan di dalam tahanan. Hal ini pula yang dirasakan para tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi. 

Andi Mallarangeng, misalnya, yang gemar membaca, mengeluh, di Rumah Tahanan KPK tidak disediakan bahan bacaan. Bekas Menteri Pemuda dan Olahraga itu ditahan sejak Kamis, 17 Oktober lalu, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek sarana olahraga terpadu Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Menurut kuasa hukum Andi, Luhut M. Pangaribuan, kliennya itu mengeluh lantaran merasa kehilangan akses informasi. “Tidak ada informasi, tidak ada koran di dalam (tahanan),” ujarnya setelah menjenguk Andi, sehari setelah ditahan di Rutan KPK. Untuk bahan bacaan Andi, sang adik, Rizal Mallarangeng, akhirnya membawakan sebuah novel karya Dan Brown, Inferno. 

Hartati Murdaya, saat ditahan di Rutan KPK sebagai terdakwa kasus suap Bupati Buol, juga banyak mengeluh. Ia menganggap makanan di Rutan KPK seperti racun karena bisa mempengaruhi kondisi kesehatannya. 

Pembaca tentu juga masih ingat Angelina Sondakh, kini terpidana kasus korupsi pembahasan anggaran di Kemenpora, yang sedih lantaran tidak bisa menyalurkan hobinya melukis di Rutan KPK. Bekas anggota Komisi Olahraga Dewan Perwakilan Rakyat itu juga pernah meminta KPK mengizinkannya dijenguk sang putra, Keanu, di luar jam besuk tahanan.

Terakhir adalah permintaan kontroversial dari Sefti Sanustika. Istri terdakwa kasus suap pengaturan kuota impor daging sapi, Ahmad Fathanah, itu meminta komisi antirasuah tersebut menyediakan bilik asmara sebagai tempat menyalur- kan hasrat biologis bersama suaminya. 

Namun, jangankan bilik asmara atau makanan istimewa, permintaan disediakan koran pun tak dipenuhi oleh KPK. Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto pernah mengatakan, tidak ada tahanan yang menikmati fasilitas berlebih di dalam ru tan, seperti televisi, kulkas, atau microwave. Semua yang disediakan sesuai dengan standar Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, termasuk makanan. Para tersangka tersebut tentu harus diingatkan bahwa mereka sedang berada di ruang tahanan. Seperti yang dikatakan juru bicara KPK, Johan Budi Sapto. “Ini kan rutan, bukan hotel,” ujarnya. Ingat ya

Source: Majalah Detik

No comments:

Powered by Blogger.