Raga yang Terpisah


Jam dinding mulai menunjukkan pukul 12 malam, tetapi orang yang selama ini Rangga tunggu belum juga datang, pesan BBM yang ia kirimkan masih deliver, menunggu untuk di baca. Selama ini Rangga telah bertahan sekian lama demi untuk bertemu seorang wanita yang ia idam-idamkan sejak dahulu. Rangga merupakan anak pertama dari pasangan Ahmad dan Rara, keduanya telah menjalin hubungan sudah lebih dari 20 tahun lamanya dan sudah dikarunia 2 orang anak salah satunya anak yang paling besar bernama Rangga.

Kehidupan Rangga bisa di bilang beda dengan teman sepermainannya di kampung, lahir sebagai anak pertama menjadikan ia sebagai anak kesayangan orang tuanya, segala kemauan Rangga oleh orang tuanya dituruti. Jika tidak demikian, maka Rangga akan mendadak sakit dan berhasil sembuh apabila kemauannya terpenuhi, kejadian tersebut berulang terus menerus hingga menginjakkan umur remaja.

Sebagai anak harapan orang tuanya, Rangga dituntut untuk berlaku baik dilingkungannya, sehari-hari Rangga tidak jauh dari apa yang namanya pendidikan agama, Rangga juga tergolong cerdas disekolahnya karena berhasil memperoleh peringkat semenjak dari kelas 1 hingga kelas 6. Maka tidak heran, Rangga sering mendapatkan reward ketika prestasi tersebut ia ulang terus menerus tiap tahunnya.

Kehidupan Rangga dari kecil hingga menginjakkan umur remaja berbeda dari teman yang lainnya, selain kemauan-kemauan yang dituruti oleh orang tuanya, ada hal yang terus membatin dalam benak Rangga dan itu membuatnya resah dan terus menerus merasa serba kekurangan. Tidak seperti orang lain pada umumnya, Rangga dari semenjak kecil selalu di tinggal oleh orangtuanya bekerja, pulang kerumah setiap 2 tahun sekali membuatnya merasa tidak seperti anak-anak yang lain disekitarnya, anak-anak disekelilingnya merasakan sentuhan, didikan langsung dari tangan orang tuanya, tetapi ini tidak terjadi pada seorang Rangga.

Usia remaja merupakan usia transisi menuju kedewasaan, Rangga yang selama ini selalu “disayang” mendadak ingin lepas dari perhatian lebih yang diberikan oleh orang tuanya, dan juga Rangga tidak ingin menuntut lebih seperti ia lakukan pada masa kecil dulu. Setelah masuk kedalam SMA favorit, Rangga tetap seperti yang dulu yang berhasil mengukir namanya dengan prestasi. Usia remaja merupakan usia dimana rasa ingin tahu itu tinggi, disekolah sedang terjadi virus merah jambu, kesenangan-kesenangan yang selama ini diceritakan oleh teman-temannya yang lebih dulu menjalin kasih, tidak menarik perhatian Rangga. Rangga tetap kokoh memegang prinsipnya untuk tidak menjalin kasih dengan teman di SMA-nya. Padahal pada waktu itu, sedang gencar-gencarnya seorang murid terkena virus merah jambu.

Latar belakang Rangga yang hidup berbeda dari teman sebayanya, selalu membuat resah dirinya (perhatian) membuatnya terus berfikir dan berfikir untuk dapat keluar dari permasalahan itu. Langkah yang kemudian diambil Rangga yakni menjalin hubungan dengan perempuan luar sekolah, Rangga berfikir bahwa fokus untuk mengukir prestasi adalah di sekolah, sedangkan disisi yang lain, Rangga juga ingin kehidupan akademiknya berjalan lancar. Salah satu cara yang ia ingat adalah menjalin hubungan dengan perempuan luar sekolah guna mendapatkan perhatian lebih. 

Setelah berhasil melakukan pendekatan secara intens meskipun terbatas oleh jarak, tidak menyurutkan Rangga untuk terus berusaha mendapatkan wanita pujaannya. banyak yang tidak percaya bahwasannya Rangga menjalin dengan wanita tersebut, tetapi fakta yang berbicara. Kelebihan Rangga yang berhasil melayangkan kata-kata romantisnya berhasil membuat luluh hati wanita pujaannya tersebut, Rangga paham bahwa kelemahan seorang wanita adalah pada daun telinganya. Sedangkan pria sendiri mempunyai kekuatan menyusun rangkain kata-kata yang mampu menyihir kaum hawa. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kata-kata selain dilawan dengan kata-kata lagi. Singkat cerita Rangga berhasil menjalani hubungan dengan wanita yang lebih muda darinya dan berasal dari sekolah yang berbeda dari Rangga. 

Perjalanan cinta Rangga kepada wanita pujaanya ternyata diluar ekpektasinya, Rangga yang mendekati wanita itu lebih dari 11 bulan lamanya, tidak disangka hubungannya mengalami jalan terjal. Ketidakkonsistenan wanita itu telah membuat Rangga terlihat murung dan masih belum bisa menerima nasibnya. Cinta Rangga yang begitu besar kepadanya malah dibales dengan goresan pahit dan tajam. Rangga berusaha kuat dan tenang dalam menghadapi itu semua, Rangga paham betul hati wanita tersebut ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya. Karena besarnya cinta Rangga, lalu ia abadikan nama wanita tersebut dibelakang sabuk yang ia kenakan. Harapannya simpel, tanpa ada orang yang tahu tulisan itu, nama itu selalu ada dalam baluran pinggangnya. 

Rangga dari semenjak kecil didik oleh orang tuanya untuk tidak menjadi pendendam. Ilmu itu ia gunakan juga kepada wanita yang belum lama menghiasi halaman relung hatinya. Meskipun dalam hati yang paling dalam ia merasakan sakit yang luar biasa, tetapi prinsip tersebut ia pegang hingga dewasa. Tidak ada dendam sedikitpun terhadap orang yang telah menyakitinya, bahkan Rangga masih menjalin hubungan dengan wanita itu meskipun hubungannya hanya sebatas teman. Fenomena demikian tidak ditemukan pada teman-teman Rangga yang lain. Sebagian besar justru enggan untuk tetap berkomunikasi dengan mantannya tersebut. 

Yang Rangga lakukan masih melakukan melakukan hubungan baik melalui SMS atau media sosial. Hanya sekedar bertegur sapa, dan menanyakan kabar masing-masing tidak dirasa aneh, kondisi demikian terus menerus belangsung. Hampir 3 tahun lamanya raga Rangga tidak pernah bertemu lagi dengan wanita pujaanya. Ini bukan cerita romantis seperti iklan LINE yang menampilkan sosok rangga yang berpisah dengan pacarnya 12 tahun lamanya. 

Rasa masih tertanam didalam hatinya, tinggal menunggu waktu entah kapan rasa itu ia kembalikan kepada pemilik yang menurut Rangga pantas mendapatkan cintanya itu. Bak gayung bersambut setelah dipisahkan oleh jarak dan waktu, kesempatan Rangga untuk mengunjungi tempat kerjanya berhasil terlaksana. Sekarang semua kondisinya entah Rangga atau mantan pacarnya ( sekarang pacarnya) sudah sama-sama dewasa, telah menuju kedalam satu fase menuju kehidupan yang rill. Rangga yakin bahwasannya jarak telah berhasil melatihnya untuk terus sabar, menjaga komitmen dan menjaga hatinya hingga kini.

Tersadar dalam ingatan, setelah mengirimkan beberapa pesan kepada sang kekasih, Rangga melihat hapenya berbunyi pertanda ada pesan yang masuk. Rangga segera buru-buru untuk membuka hapenya dan membaca pesannya. Rangga tidak bermaksud membunuh karakter wanita yang pada hakikatnya senang menceritakan kehidupannya baik itu manis atau pahit, Rangga ingin melihat kekasihnya tetap tersenyum bahagia seperti senyumannya ketika pengamen jalanan melantunkan lagu-lagu romatis. Kata pesan yang terpampang dilayar hapenya menunjukkan kata “gpp”, perkataan simpel tetapi sarat mengandung banyak makna. Hati nya mengerut kecil, pertanda kekasihnya dalam banyak masalah. Rangga berusaha tenang mesikpun jawaban dari kekasihnya di balas hanya dengan kata-kata singkat, Rangga semakin gelisah, berharap masalah yang dihadapi kekasihnya cepat berlalu. Raga yang terpisah menjadikan Rangga terbatas dalam bergerak, hati kecilnya ingin sekali merasakan perasaan yang sedang berkecamuk dalam hati kekasihnya. Apa boleh buat, pesan-pesan pengiring tidur saja yang bisa ia kirimkan untuk menenangkan. Bagi Rangga, masalah yang dihadapi kekasihnya membuatnya tidak nyaman dalam menikmati tidurnya, hanya catatatan kecil yang berhasil ia telurkan lewat tulisan dan berharap tulisan itu dibaca oleh kekasihnya. Selamat malam ibu apoteker “ ungkapnya. 



Comments
0 Comments

0 komentar: