Semua cerita lahir dari sini (home)

Sumber : www.lovelytoday.com

Sering denger cerita-cerita orang tua kita yang membanding-bandingkan masa lalunya dengan masa kini? Sering denger cerita betapa heroiknya mereka menjalani itu semua, pergi kesekolah hanya beralaskan tanah alias cekermen, rela berjalan berpuluh-puluh kilometer hanya untuk sekolah atau hanya sebatas membeli kebutuhan rumah tangga karena rumahnya berada jauh dari akses kota? belum ada sarana komunikasi yang canggih seperti sekarang ini. Yaaaa, itulah kehidupan orang tua kita dulu yang hidup dengan keterbatasan tetapi mereka dapat melewatinya berkat kegigihan dan kerja keras yang mereka miliki. Mereka di tempa setiap hari dengan pelajaran-pelajaran hidup yang berasal dari alam. Alam begitu dekat dengan mereka, mengajarkan sesuatu hal hingga akhirnya mereka benar-benar kuat menjalani hidup. Bukan menjadi seseorang yang lemah, kalah dengan dirinya sendiri, kalah dengan kondisi dan kalah dari segala-galanya. 

Lahir dari keterbatasan bukan berarti mati dalam kemiskinan, Desa merupakan wilayah yang jauh dari akses kota. Hegemoni kota tidak "terasa" di desa-desa apalagi didesa pedalaman, sangat terasa sekali hidup dalam keterasingan dan keterbatasan. Tetapi, banyak orang-orang besar yang lahir dari sebuah desa, tempat yang sangat jauh dari unsur kemajuan, tempat masyarakat hidup yang serba homogen, tidak ada aktifitas sesibuk seperti aktifitas perkotaan yang sehari-hari kita lihat.  "chairul tanjung si anak singkong" mungkin bisa dijadikan contoh sekarang ini :)

Tinggal di desa yang jauh dari aktifitas perkotaan bukan berarti kampungan, suasana yang indah nan asri telah memberikanku  rasa nyaman dan tentram. Terkadang suasana seperti ini yang jarang aku temukan di bumi perantauan. Setelah menjalani rutinitas panjang selama perkuliahan  batinku terus menerus ingin menengok kampung halaman. Kampung halaman tempatku menempa diri, tempat dimana aku belajar banyak hal, salah satunya tentang keterbatasan. Mengingat masa kecil ketika bermain bersama teman-teman sepermainan juga kadang mengasikan, teman-teman masa kecil yang kini sudah menginjakkan umur dewasa atau bahkan telah membina rumah tangga. Ya wajar saja  sih sekarang aku juga telah menginjakkan hampir kepala dua jadi fenomena itu sudah dianggap biasa apalalagi temen-temen perempuan. Momen pulang ke kampung halaman juga merupakan momen yang pas berbagi cerita dengan keluarga, teman, sahabat dll mengingat, menceritakan dan mentertawakan.

Mentari pagi mulai menampakan sinarnya, pemandangan Gunung Ciremai yang anggun seakan menunjukkan dirinya yang gagah dan perkasa. Sejauh mata memadang terdapat hamparan sawah yang hijau, yaaa itulah suasana pedesaanku. Sebagai seorang anak yang lahir di lingkungan serba terbatas justru menambah rasa penasaranku akan kehidupan yang baru, serta pengalaman baru . Anak yang lahir di pedesaan juga punya cita-cita tinggi menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, dan sekarang merasakan keterasingan. Maksudnya jarang berada di kampung, tidak jarang setiap orang yang bertemu menanyakan hal yang samaa " kapan pulangnya? " Kok makin ini sih bla bla bla...
Teringat salah satu perkataan seorang ulama zaman dulu yakni imam syafii yang menuliskan bait-bait nasehatnya dengan begitu indah dan menyentuh hati, bait-bait itu sangat dekat bagi setiap orang yang menikmati proses menuju masa depannya justru jauh dari kampung halaman. :)

Orang berilmu dan beradab tidak akan
Diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan
Merantaulah ke negri orang
Merantaulah,kau akan dapatkan
Pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah,manisnya hidup
Akan terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak
Karena diam bertahan
Jika mengalir menjadi jernih,
Jika tidak keruh menggenang
Singa jika tidak tinggalkan sarang tak
Akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan
Busur tidak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum di gali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
-imam syafi'i-


No comments:

Powered by Blogger.