Mahasiswa dan Senat KM UGM


Mahasiswa menduduki peranan strategis dalam kehidupan bangsa dan bernegara, peran generasi muda tidak dihiraukan lagi sepak terjangnya dari semenjak negara ini lahir. Tentu kita tidak dapat memungkiri, bahwa ditangan genarasi muda maka masa depan bangsa di tancapkan. Kekuatan serta analisis yang dimiliki mahasiswa, mampu memberikan sumbangsih berupa pemikiran-pemiran kritis terhadap realita yang terjadi. Posisi mahasiswa atau generasi muda yang berada ditengah-tengah struktur sosial memiliki banyak konsekuensi, selain sebagai penyeimbang bagi jalannya roda pemerintahan yakni pressure group, juga memiliki fungsi sebagai penyambung lidah bagi keluhan masyarakat yang selama ini kebingungan dalam menyampaikan aspirasinya.

Kemajuan sebuah bangsa tidak terlepas dari kaum muda, jika kita melihat sejarah bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki banyak sekali ragam budaya dan terdiri dari berbagai suku, ras, adat serta golongan menjadikan Indonesia sebagai negara yang multikultural. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak aneka flora dan fauna bermacam-macam yang tersebar diseluruh pelosok negeri, dan juga pemandangan alam yang indah yang tiada duanya. Dibalik keindahan alam yang dimiliki Indonesia, bangsa ini ternyata memiliki pengalaman yang menyakitkan dan dihiasi oleh sejarah kelam, bangsa ini lahir dari proses pertumpahan darah disetiap daerah. Kucuran darah dan keringat menjadi pemandangan biasa pada masa itu. Satu hal yang menjadi tujuan utama bagi mereka yang bertempur mati-matian adalah bukan sebutan gelar yang akan disandangnya ataupun sebutan pahlawan. Namun yang ada dibenak pikirkan mereka adalah bagaimana “Indonesia Merdeka”. 

Saya sebagai generasi setelahnya tentu tidak lupa begitu saja dengan perjuangan para pendahulu kita, saya sangat bangga terhadap bapak-bapak pendiri bangsa karena kegigihannya membebaskan Indonesia dari cengkraman penjajah. Penjajahan yang dilakukan oleh asing telah banyak merugikan kehidupan masyarakat Indonesia, seperti contoh kehilangan harta benda karena di rampas dan menaman tanaman tanpa dibayar (tanam paksa). Kejadian seperti itu sangat menggores dan membenamkan luka dan derita bangsa Indonesia hingga kini. Dalam kurun waktu yang lama peristiwa Kemiskinan, kelaparan, kebodohan adalah fenomena yang mudah ditemukan dimana-mana, hal ini karena keserakahan yang dilakukan bangsa penjajah sejak menancapkan kakiknya di bumi pertiwi. Fenomena yang terjadi seperti kelaparan, kemiskinan dll tentu tidak dihiraukan lagi oleh bangsa penjajah, yang diperhatikan hanyalah bagaimana mereka mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya untuk memabangun negaranya masing-masing sebagai negara yang maju. Negara ketiga yang notebene sebagai negara jajahan atau negara berkembang hanya menjadi penonton, bagaikan sapi perah yang terus di perah kekayaan alamnya hingga habis. Indonesia hanya merasakan akibat yang berkepanjangan dari peristiwa penajajahan yang dilakukan negara maju.

Hingga saat ini, permasalahan di Indonesia tidak pernah usai, masalah muncul terus menerus mengikuti perkembangan zaman, permasalahan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, pengangguran dan lain lain menjadi masalah yang penting untuk segera di atasi. Karena lambat laun masalah-masalah yang muncul akan semakin kompleks. Permasalahan kemiskinan semenjak dahulu belum pernah terpecahkan, kemiskinan pada zaman dahulu tersebar di desa-desa namun kondisi sekarang jauh berbeda, kemiskinan sudah menyebar ke perkotaan, banyak ditemukan daerah kumuh ( Slum Area) akibat dari ketidakmampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan zaman atau pengaruh globalisasi. 

Tantangan globalisasi sangat berat dihadapi negara berkembang lebih khususnya Indonesia. Bagi masyarakat yang tidak mampu berhadapan dengan hal tersebut, tantangan itu berdampak pada ketidakmampuan masyarakat dalam menghadapi gempuran pemodal besar dan mengakibatkan kesenjangan yang melebar. Globalisasi menuntut seseorang untuk memiliki keahlian tertentu dan harus mampu bersaing dengan yang lainnya. Jika tidak demikian, maka golongan masyarakat menjadi terpinggirkan dan termarjinalkan. 

Permasalahan bangsa ini bukan hanya untuk dilihat, bukan hanya untuk diresapi namun permasalahan itu harus dipikirkan bersama-sama dan dipecahkan jalan keluarnya sebagai wujud aksi konkrit generasi muda. Dalam prakteknya meskipun mahasiswa belum sepenuhnya mampu terlibat langsung misal membuat sebuah kebijakan seperti kita yang kita temukan dilayar televisi selayaknya anggota dewan terhormat. fakta yang terlihat adalah perilaku anggota dewan yang cenderung tidak berpihak pada rakyat khususnya rakyat kecil sebagai konstituennya dahulu. Apa yang diperagakan wakil rakyat sungguh tidak mencerminkan wakil rakyat, lalu muncul pertanyaan rakyat yang mana yang mewakili dirinya? mungkin hanya mewakili golongan saja atau hanya individu semata. Disini setidaknya peranan kaum intelektual ini harus terasa keberadaanya bagi lingkungan sekitar, ikut serta dalam mengontrol dan menjaring aspirasi apabila kebijakan yang dijalankan tidak sesuai yang diharapkan. 

Banyak jutaan orang diluar sana yang mendoakan kita sebagai kaum intelektual, menanti kita untuk membuat perubahan yang berarti di negeri ini. Mengharapkan kita yang bisa menggapai asa dan cita mereka, yaitu untuk mengarahkan bangsa kita ini ke arah yang lebih baik. Kita harus bisa menjadi manusia yang bisa membuat sekeliling kita merasa lega karena kehadiran kita. Kitalah, yang banyak dinanti orang untuk membuat perubahan ini !! seperti kutipan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Soe Hok Gie

Mimpi saya yang terbesar yang ingin saya laksanakan adalah agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia biasa’. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai manusia yang normal, sebagai manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda, dan sebagai seorang manusia”.

Kontribusi yang diberikan oleh kalangan muda dapat dilakukan berbagai macam cara, usia muda yang dianalogikan sebagai jam 12 ketika matahari bersinar paling terang dan paling panas[1], merupakan bukti bahwa masa muda merupakan masa emas dalam mengukir sejarah perubahan. Tangan-tangan generasi muda diharapkan mampu memberikan rasa optimis bagi kemajuan bangsa ini. Semenjak Indonesia lahir melawan kejamnya kaum penjajah, peran pemuda sangat besar kontribusinya untuk melahirkan kemajuan. Tidak dapat dinafikan memang, ketika pemuda bersatu padu membentuk barisan yang kokoh dan kuat, terbukti pemuda mampu melakukan perubahan yang diharapkan.


Perubahan terkecil dapat dilakukan salah satunya memalui senat KM UGM. Senat KM UGM merupakan wadah bagi setiap mahasiswa untuk menempa diri, mengasah kemampuan dan berkontribusi lebih bagi mereka yang mau. Senat KM memiliki fungsi legislasi, fungsi aspirasi, dan fungsi pengawasan sangat penting dalam mengawal jalannya lembaga eksekutif yakni BEM KM UGM. Tanpa perannya, tentu roda yang berjalan tidak akan stabil. Seperti lembaga- lembaga lain pada umumnya, senat KM yang dipilih dengan mekanisme pemilihan langsung haruslah bisa menjaga amanah yang telah di suarakan kepadanya. Senat KM UGM harus selalu terbuka bagi para mahasiswa yang kesulitan dalam mengadukan tuntutannya, senat KM harus hadir di tengah-tengah mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

Senat KM UGM yang dirasa kurang optimal keberadaannya, harus mampu mengadirikan sosoknya ditengah-tengah mahasiswa. Karena bagaimanapun sebagai lembaga legislatif yang memiliki konstituen harus tetap menjaga agar mereka tidak kecewa. Pasang surut yang terjadi pada Senat KM belakangan ini harus direspon secepat mungkin, merubah wajah Senat KM menjadi pekerjaan rumah bersama. Jika melihat sejarahnya berdiri, tentu kelahiran lembaga ini dipenuhi semangat perjuangan para kaum mahasiswa, setiap orang tahu bagaimana perjuangan mendirikan senat KM UGM, melawan rezim Orde Baru hingga pasang surut pergerakan mahasiswa menambah manis cerita perjalanan didirikannya senat KM UGM. 

Saya teringat perkataan salah satu dosen di perkuliahan yakni bahwasannya “kita bukan saja menjadi generasi penerus, namun harus bisa menjadi generasi pendobrak”. Jika generasi terdahulu yang menghiasi Senat KM melakukan keburukan lalu apakah kita menjadi generasi penerus? tentu tidak, Senat KM UGM memiliki tugas besar saat ini, merubah citra negatif yang melekat selama ini agar terbentuk wajah senat KM menjadi lebih baik lagi dan maksimal dalam mengawal jalannya periode kepemimpinan BEM KM kedepan.

1000 langkah di mulai dengan 1 langkah, tidak ada hal yang perlu di sesali teruntuk kemajuan Senat KM UGM, Universitas Gadjah Mada dan bangsa Indonesia tercinta

Hidup Senat KM UGM !

Taryono 














[1] kutipan ulama DR. Yusuf Qardhawi
Comments
0 Comments

0 komentar: