Kemacaten di Yogyakarta : Mahasiswa


sumber foto : antarayogya,2014
Kemacetan menjadi isu-isu yang sedang tren di kota-kota besar , tek terkecuali di Yogyakarta. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dan meningkatnya daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor serta kemudahan dalam mengaksesnya memicu meningkatnya jumlah kendaraan bermotor,sehingga kemacetan sering terjadi di jalanan yang tersebar di Yogyakarta karena volume kendaraan yang tidak sebanding dengan ruas jalan yang ada. kemacetan kerap kali terjadi terutama di jam-jam sibuk, kondisi ini diperparah karena kondisi morfologi jalan yang ada di Yogyakarta terbilang sempit. 

Jumlah kendaraan bermotor di Kota Yogyakarta terus meningkat, sementara di sisi lain jumlah jalan relatif konstan. Maka bisa dipastikan bahwa lambat laun daya dukung jalan akan tidak mencukupi untuk mendukung dan menampung mobilitas kendaraan di Kota Yogyakarta. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kemacetan lalu lintas (Traffic jam/Bottleneck) yang terjadi hampir setiap pagi, siang, sore, dan malam di beberapa ruas jalan besar di Kota Yogyakarta, seperti terlihat di perempatan MM UGM, perempatan Mirota Kampus, perempatan Tugu, perempatan Jalan Magelang, depan Saphir Square, dan tempat-tempat lain (Hanggara, 2006)

Fenomena tersebut di perparah karena yogyakarta sendiri menjadi daya terik pariwisata dan menjadi kota pelajar sehingga setiap tahunnya volume perpindahan penduduk yang tidak lain adalah mahasiswa baru menambah permasalahan semakin kompleks. Kondisi seperti ini, tidak sepenuhnya menyalahkan berbagai pihak, namun dalam hal ini pemerintah yang turut bertanggung jawab karena belum mampu memberikan solusi atas permasalahan ini. Meskipun pemerintah telah menyediakan angkutan umum berupa Transjogja.

Belum lama ini, Pada 2012 silam, terbit wacana untuk membangun sebuah moda transportasi berbasis sistem rapid transit. Untuk saat ini, sistem mass rapid transit (MRT) yang telah ada di Yogyakarta adalah TransJogja, sebuah moda transportasi bertipe bus (BRT) yang telah aktif sejak 2008. Meskipun demikian, TransJogja dinilai masih belum mampu mengurai permasalahan kemacetan dengan baik. Kendala utamanya, moda transportasi BRT ini masih terintegrasi dengan jalanan utama, menjadikannya tetap dapat terimbas pada kemacetan. Keberadaan armada TransJogja ini juga dinilai belum optimal karena terganjal dengan kurangnya jumlah armada, penentuan rute yang kurang efisien, dan kondisinya yang semakin lama semakin tidak terawat dan tidak layak jalan.

Berkaca dari pengalaman tersebut, pemerintah DIY merencanakan pembangunan MRT berbasis rel yang akan dibangun secara melingkar sepanjang 30-40 kilometer. Konsep mass transportation atau MRT ini memiliki beberapa kelebihan, seperti tidak mengganggu jalur jalan lain, dapat mengangkut banyak penumpang, lebih efisien saat pengoperasiannya nanti, dipastikan tepat waktu, dan nyaman . Rencananya, MRT ini akan digunakan untuk menunjang transportasi antarkota di wilayah DIY, khususnya setelah pembangunan bandara di Kulonprogo terlaksana.

Demi mengupas permasalahan ini, ada baiknya melibatkan bagaimana persepsi masyarakat terhadap sebuah kebijakan. Saat ini, kita cenderung terfokus kepada kondisi sebelum dan sesudah kebijakan dilaksanakan. Namun, kita kurang memperhatikan bagaimanakah pandangan masyarakat akan sebuah kebijakan, sebelum ia diimplementasikan.

Penelitian ini melibatkan mahasiswa karena mahasiswa adalah kalangan dari kelas kreatif yang cukup dominan. Kota Yogyakarta dikenal memiliki populasi mahasiswa sebesar 30% dari total populasi. Dengan jumlah yang sedemikian besar, tentu saja kita tidak dapat mengabaikan peran mahasiswa sebagai konsumen utama dari fasilitas transportasi umum.


Dari mayoritas mahasiwa yang disurvey hampir semuanya sepakat bahwa mereka tidak puas dengan kondisi transportasi umum di Yogyakarta, bahkan ada yang tidak pernah menggunakan angkutan umum tersebut. Sedangkan dari wacana implementasi MRT berbasis rel hampir sebagian mahasiswa setuju meskipun banyak pro dan kontra. Pihak pro beranggapan bahwa dengan adanya MRT dapat menjamin ketepatan waktu, sedangkan dari pihak yang kontra beranggapan bahwa adanya ancaman bagi transportasi traditional karena notabennya Yogyakarta sebagai kota budaya.

No comments:

Powered by Blogger.